Candi Sewu: Lokasi, Rute, Harga Tiket & Fasilitas

Candi Sewu: Lokasi, Rute, Harga Tiket & Fasilitas

Masih berada di kawasan Jawa Tengah yang terkenal dengan banyaknya peninggalan zaman kerajaan Hindu dan Buddha, wisata Candi Sewu menjadi salah satu destinasi pelesir yang sayang bila dilewatkan. Dengan bangunan yang berusia bahkan lebih tua dari Borobudur, suasana di kompleks candi ini pun terasa begitu eksotis.
Wisata Candi Sewu
photo by pakettourdijogja.com
Merujuk pada Prasasti Kelurak yang menggunakan bahasa Sansekerta (782 M) dan Prasasti Manjusrigrha yang menggunakan bahasa Melayu Kuno (792M M), nama asli Candi Sewu adalah Prasada Vajrasana Manjusrighrha. Adapun kata prasada memiliki makna candi atau kuil, vajrajasana berarti tempat intan atau halilintar bertakhta, dan manjusrighrha diartikan sebagai rumah Manjusri. Manjusri sendiri merupakan salah satu ‘Boddhisatwa’ alias calon Buddha. Dari penamaan ini, terlihat bahwa Candi Sewu dulunya pun menjadi pusat agama Buddha di masanya.

Bukti Keharmonisan Hindu dan Buddha

Candi Sewu merupakan candi bercorak Buddha yang dibangun pada abad kedelapan. Terdiri atas ratusan candi, monumen kuno khas nusantara ini menjadi kompleks candi Buddha terbesar yang berada di sekitar kawasan Prambanan dan nomor dua setelah Borobudur untuk skala Indonesia. Ukuran lahannya yang membentang dari utara ke selatan mencapai 185 meter, sementara dari timur ke barat mencapai 165 meter.

Dibandingkan Borobudur, Candi Sewu berada di lokasi yang lebih dekat dengan Candi Prambanan yang bercorak Hindu. Bahkan, jarak kedua kompleks candi yang masif ini tidak sampai 1 km. Adapun kedekatan dua tempat pemujaan yang sakral dari dua kultur dan kepercayaan yang berbeda ini menandakan sebagai bukti keharmonisan antarumat beragama yang ada sejak dahulu.

Arsitektur Hasil Akulturasi

Selain dari kedekatan jarak topografi dengan Candi Prambanan, bukti nilai toleransi agama Hindu dan Buddha di masa lampau juga terlihat pada arsitektur wisata Candi Sewu. Bila diperhatikan, kuil ini memadukan gaya khas budaya Hindu dan Buddha.

Konon, Candi Sewu dibangun pada masa pemerintah Raja Rakai Panangkaran, raja kedua Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Medang alias Mataram Kuno. Pembangunan ini berlangsung cukup lama, yakni sejak tahun 746 hingga 784 Masehi. Perlu diingat, Kerajaan Mataram Kuno sendiri merupakan kerajaan besar yang bercorak Hindu sehingga bangunannya pun masih mengusung corak Hindu.

Barulah kemudian pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan, putra Rakai Panangkaran, corak Buddha mulai masuk. Rakai Pikatan yang turut memugar dan memperbesar candi menikahi Pramordhawardhani, salah seorang putri Dinasti Syailendra yang menganut agama Buddha.

Menariknya, perpaduan dua agama ini tidak lantas menimbulkan persaingan dengan berusaha menjatuhkan satu kepercayaan. Rakai Pikatan tetap menganut Hindu sebagai keyakinannya, sementara Pramordhawardhani pun tetap menganut Buddha sebagai keyakinannya.

Kompleks Candi yang Tertata

Kompleks wisata Candi Sewu tertata dengan sangat baik. Pintu kompleksnya berjumlah empat yang terletak di setiap penjuru mata angin utama walau pintu utamanya sendiri berada di sisi timur. Tak lupa, sebagaimana kepercayaan Hindu dan Buddha, di setiap pintu masuk juga dilengkapi sepasang arca Dwarapala yang berukuran sekitar 2 meter. Arca raksasa ini dibuat sebagai penjaga atau pelindung tempat suci.

Dalam bahasa Jawa, sewu berarti seribu. Namun sesungguhnya, jumlah candi yang ada di kompleks ini hanya 249. Adapun susunan bangunan candi di sini mengikuti aliran Buddha Mahayana dengan membentuk mandala wjradhatu alias perwujudan alam semesta.

Selain satu candi utama yang berada di tengah dengan ukuran paling besar, ada pula candi perwara alias pengawal dan candi penjuru. Candi pengawal berjumlah 240 buah yang disusun atas empat barisan konsentris. Mulai bagian paling dalam hingga terluar, susunan jumlahnya adalah 28, 44, 80, dan 88. Sementara itu, candi penjuru berada di antara baris kedua dan ketiga candi pengawal dengan total 8 buah. Semestinya, candi pengawal ada di setiap penjuru mata angin, tetapi kini hanya ada candi penjuru kembar timur dan satu candi penjuru utara.

Lokasi dan Rute Menuju Wisata Candi Sewu

Wisata Candi Sewu berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Dari dua kota terpopuler di sekitarnya, Yogyakarta dan Solo, objek wisata ini bisa ditempuh dalam kurun waktu kurang dari dua jam. Bila bertolak dari Yogyakarta, jarak tempuhnya hanya sekitar 17 km (menuju ke arah Solo). Sementara bila bertolak dari Solo, jarak tempuhnya lebih jauh, yakni sekitar 48 km.

Bagi yang tidak cukup familier dengan Candi Sewu, rute menuju Candi Prambanan bisa dijadikan acuan mengingat jarak dua wisata sejarah ini hanya terpaut sekitar 800 meter. Bila menggunakan kendaraan pribadi pun tidak akan susah menemukannya sebab ada banyak papan penunjuk jalan yang akan ditemui.

Namun, menggunakan transportasi umum pun bukan jadi hal yang terlalu bermasalah. Keberadaan TransJogja menjadi alternatif yang layak untuk dijajal. Dari stasiun, bandara, maupun terminal bus yang ada Yogyakarta, cari saja halte TransJogja terdekat dan pilih jalur menuju Terminal Prambanan. Dari sini, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki atau menggunakan transportasi umum tradisional yang ada di sekitar kawasan wisata.

Harga Tiket dan Fasilitas Wisata Candi Sewu

Harga tiket masuk wisata Candi Sewu terbilang cukup murah, yakni sekitar Rp10.000,00. Jam operasionalnya mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, sehingga mendapatkan momen saat matahari terbenam dengan pemandangan pelataran candi masih sangat memungkinkan.

Peninggalan jejak keemasan Hindu Buddha di Indonesia ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum seperti tempat parkir, musala, kamar mandi, dan tempat makan dengan aneka sajian hidangan yang berada tepat di depan kompleks candi. Jika puas menikmati keindahan di Candi Sewu, wisatawan bisa sekaligus mengunjungi Candi Plaosan yang hanya sejauh 1 km atau Candi Prambanan yang persis berada di sisi selatan kompleks candi ini.

Wisata Candi Sewu merupakan wisata edukasi sekaligus histori yang menyimpan banyak cerita dari masa lalu nusantara di tanah Jawa. Terdaftar sebagai warisan budaya di UNESCO, wisatawan domestik maupun asing pun sudah banyak yang berkunjung ke sini. Kapan giliran Anda?
Buka Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel